Jadikan Pengalaman Sebagai Penasihat

Beberapa saat yang lalu saya dihadapkan dengan transaksi bisnis yang mungkin adalah yang terbesar bagi saya sampai saat ini, saya bertanggung jawab penuh mewakili keluarga saya sebagai perwakilan dalam suatu perjanjian perdagangan. Dalam prosesnya pun, diharuskan serta dituntut agar bisa berkomunikasi secara baik, dan alhamdulillah saya memiliki pengalaman yang bisa menghidupkan suasana ketika bertemu dengan klien saya tersebut.

Saat pertama kali bertemu, saya tetap santai, relaks, menguasai diri dan tidak tegang, sambil bercerita tentang keluarga dan menceritakan tentang pengalaman-pengalaman hidup dengan penuh keceriaan dan senyuman, dan hal tersebut memang sangat efektif, yang saya maksud adalah ketika kita berbicara dengan penuh dengan kharisma, terkadang menjadi pendengar yang baik itu pun sanggup menarik perhatian orang lain karena dia merasa dihargai.

"Anda bisa membuat surat perjanjian?" dia bertanya demikian itu setelah sebelumnya menanyakan tentang pekerjaan, pengalaman dan anggota keluarga saya. Saya sempat kaget, dan saya sedikit berfikir, apa jangan-jangan dia sedang mengetes saya. Dan singkat cerita saya memanfaatkan pengalaman saya sebelumnya, sekitar satu bulan yang lalu saya disibukkan dengan pekerjaan kantor yang disitu dituntut untuk membuat surat-surat penting seperti Surat Perjanjian (Letter of Agreement, Memorandum of Understanding), lengkap dengan pasal-pasalnya, setelah dulu sempat berfikir kira-kira bermanfaat tidak hal semacam itu untuk kedepannya nanti, langsung saya rasakan manfaatnya siang tadi, dengan lancar dan tanpa tekanan saya bisa membuat surat perjanjian perdagangan secara tertulis beserta persyaratan lainnya dimana saya mendapati hal tersebut ketika saya mengajukan surat perjanjian kepada klien kantor saya. Sungguh saya bersyukur Alhamdulillah, betapa tidak karena saya tidak menyangka-nyangka bahwa ilmu tersebut bakal saya pakai dalam waktu dekat.

Didalam surat tersebut saya hanya mengandalkan memori saya, mengingat-ingat poin penting dalam membuat surat perjanjian, seperti adanya istilah PIHAK PERTAMA, PIHAK KEDUA, transaksi yang dimaksud berupa apa, kemudian sanksi apabila salah satu pihak melanggar perjanjian yang telah disepakati, tempat dan tanggal penulisan surat perjanjian, kemudian difotokopi rangkap dua, keduanya adalah asli, lalu ditempeli meterai, tanda tangan kedua belah pihak, dan setiap pihak mendapat satu  buah.

Sebelum ditandatangani, ketika saya mengarahkan agar dia membacanya, dan mengkoreksi barangkali ada kekurangan dalam surat perjanjian tersebut, dia langsung mengatakan "Ya, ini sudah bagus dan baik." hati saya langsung senang dan enteng. :)

Saya benar-benar bersyukur atas segala pengalaman yang saya terima dan saya rasakan bersama dan dari orang-orang yang luar biasa di sekitar saya, saya belajar banyak dari mereka. Inti dari yang saya maksud adalah satu. Pengalaman, sekecil apapun itu, kapanpun itu, entah dalam waktu dekat atau berapa puluh tahun lagi, pasti bermanfaat dan kita mendapati hikmahnya, jadikan setiap pengalaman yang kita miliki sebagai guru bagi kita, sebagai penasehat kita, sebagai sumber ilmu pengetahuan kita. Pengalaman mungkin diawali dengan kegagalan, tapi jika kita seringkali mengulangi kegagalan yang sama, itu tidak akan memberi kita apa-apa. :)

Nur Rohmat

Post a Comment

Instagram