Dari Sepak Bola Turun Ke Otak

Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, sudah saatnya saya pulang dari kantor, tidak lupa bahwa hari ini adalah hari senin, hari latihan sepak bola bersama para sahabat, sepak bola merupakan salah satu hobi saya. :)

Setelah itu saya langsung tiba di rumah, kemudian berganti pakaian dan segera menuju lapangan. Tempatnya tidak jauh dari rumah. Setiap hari senin sore merupakan jadwal latihan rutin bagi saya untuk bermain sepak bola, dan itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Seperti biasa, posisi saya adalah sebagai palang pertahanan tim, walaupun postur tubuh saya tidak setinggi orang bule namun sudah mencukupi untuk menempati posisi sebagai libero (posisi defender/pemain belakang paling belakang, di depan kiper). :D

Sebenarnya dulu saya ingin sekali menjadi seorang pemain depan (stricker) namun karena saya adalah pemain dengan tipe sapu bersih akhirnya pelatih menempatkan saya di belakang. Ternyata ada untungnya juga, menjadi pemain belakang diharuskan diam di area pertahanan dan bergerak jika dan hanya jika pertahanan diserang oleh lawan, selain itu diharuskan mengkomando pemain yang lain saat melakukan jebakan  off side. Dan saya termasuk orang yang cerewet jika sudah berada di atas lapangan hijau, bahkan musuh bisa frustasi karena saya seringkali memberi tanda peringatan atau awas kepada teman satu tim jika dalam posisi kurang menguntungkan, atau ketika pemain lawan bergerak mendekati teman satu tim saya. Itu tugas saya. :D

Dan ketika itu permainan sudah memasuki menit-menit akhir pertandingan, cuaca semakin mendung, sepertinya hawa hujan mulai mendekat, skor pertandingan masih imbang 2-2, sehingga tim saya harus mengerahkan semua kekuatan agar bisa menambah jumlah gol. Tidak lama kemudian hujan turun membasahi seluruh lapangan, karena drainase yang kurang baik, akhirnya lapangan penuh dengan air. Bermain dengan bola-bola passing pendek sudah tidak efektif lagi, hanya dengan umpan lambung bola bisa bergerak jauh.

Hari mulai gelap, tim saya mendapatkan kesempatan tendangan pojok atau corner kick, giliran saya untuk maju. Saya sedikit unggul dalam hal menyundul bola atau heading, sehingga merupakan momen yang tepat bagi saya. Saat bola sudah ditendang ke arah gawang, posisi saya sedikit menguntungkan, dan saya tidak melihat pemain bertahan lawan yang mendekati saya, konsentrasi saya ke bola dan gawang. Lalu saya melompat dan bola saya sundul, namun meleset, karena saya mendapat sedikit dorongan atau benturan dari kepala pemain lawan yang muncul dengan tiba-tiba. Saya pun akhirnya gagal menyundul.

Setelah itu saya merasakan perih di sekitar dahi, lalu saya sentuh area sakit tersebut dengan telapak tangan saya, sedikit warna merah, tanda bahwa dahi atau alis saya sedikit lecet. Namun karena tidak terlalu sakit, saya tetap melanjutkan pertandingan. Dan skor akhir tetap 2-2.

Sesampai di rumah, saya merasa heran kenapa sakitnya malah sedikit tambah perih. Lalu akhirnya saya memutuskan untuk bercermin. Saya merasakan shock karena luka di alis mata saya ternyata cukup dalam dan sepanjang 1.5 cm. Heran juga kenapa saat bermain sepak bola tadi saya tidak merasakan sakit, baru setelah saya bercermin rasa sakitnya makin terasa.
Hal ini menunjukkan, bahwa yang namanya rasa sakit itu dikendalikan oleh otak kita, otaklah yang mengizinkan apakah kita menerima rasa sakit tersebut atau tidak. Ketika mandi, saya tidak terfokus pada rasa sakit saya, tapi saya alihkan ke hal yang lain, cara tesebut lumayan efektif biarpun hanya sementara. Saya ingat cerita serupa yang dipaparkan oleh pakar psikolog, rasa sakit bisa dialihkan ke hal yang lain, pada dasarnya semua dikendalikan oleh otak. Karena diibaratkan otak adalah bos dari tubuh kita, sedangkan hati (nurani) adalah yang mempengaruhi apakah otak akan memilih sesuatu yang baik atau yang buruk. :) *opini*

Setelah itu saya pun pergi ke tempat dokter. Pak dokter berniat menjahit luka tersebut, namun saya berharap jangan sampai dijahit, karena ngeri deh kayaknya :'(
Dan alhamdulillah Pak dokter tidak jadi menjahit luka saya, hanya memberi obat dalam dan obat luar lalu memplester area pelipis dan alis mata saya, dan saya memakai plester tersebut selama dua hari. Karena Pak dokter mewanti-wanti kalau plester boleh dilepas setelah dua hari.

Sekian cerita saya. Semoga yang kesasar di sini tidak marah-marah ya? :) hehehe
Semoga bermanfaat. :D

Nur Rohmat

Post a Comment

Instagram