Curhat Jam Malam


Menjadi Event Organizer (EO) dalam suatu acara merupakan sesuatu yang sangat menantang bagi saya, puncaknya pada saat saya menjadi volunteer dalam ajang ASEAN PARA GAMES VI, ketika itu saya berniat menjadi Liaison Officer (LO), tapi berhubung bahasa inggris saya boleh dikatakan kurang dari standar yang ditetapkan, akhirnya posisi saya melorot menjadi volunteer. Namun hal tersebut tidak menjadi suatu masalah bagi saya, karena ternyata keduanya, baik volunteer maupun LO, memiliki tugas yang hampir mirip dan sama (karena LO pun juga merupakan volunteer) :D


Dalam 10 hari menjadi volunteer ternyata memberikan pengalaman yang luar biasa, di situ saya banyak belajar mengenai prosedur kerja standar (SOP) dari EO, mulai dari persiapan awal sampai akhir. Ternyata benar-benar memerlukan kerja all out, penuh dengan tantangan serta banyak cobaan :) Saya kira volunteer adalah sebuah profesi hanya bagi mereka yang dilahirkan dengan jiwa pantang menyerah. :D

Setelah EO APG VI, akhirnya juga diberi kesempatan untuk menjadi EO dalam acara yang lain. Berbeda dengan EO APG VI, ketika itu saya mendapat bagian menjadi tim sukses Opening-Closing Ceremony, setelahnya saya lebih cenderung (dan seringkali) mendapat jatah di bagian kesekretariatan. Yang bertugas mengotak-atik huruf dan angka dalam membuat proposal, ya sekretaris. Yang menentukan kelancaran acara terkait dengan bab perizinan, tamu undangan, berita acara, ya sekretaris. Posisi sekretaris sangat vital, bisa jadi suatu acara akan jalan di tempat jika sekretaris tidak bergerak secepat kilat :D


Kebiasaan saya dengan para sahabat, sesama jenis (baca: sekretaris) adalah working overtime, overnight, less bed time, dan sejenisnya. Pada saat pelaksanaan suatu acara, seringkali saya harus bekerja sampai larut, bahkan tidak tidur agar pelaksanaan suatu acara bisa berjalan dengan lancar. Sehingga saya dituntut harus memiliki fisik yang mumpuni, serta pikiran yang selalu tenang dan jernih. Walaupun terkadang ada permasalah kesekretariatan, yang membikin depresi  :D seperti anggaran dana proposal yang belum lengkap (karena menunggu laporan dari sie yang lain), undangan yang belum sampai kepada alamat yang dituju, rundown acara yang berubah-rubah, namun hal tersebut menjadikan saya semakin tertantang untuk menyelesaikan.


Mungkin ada yang bertanya, hasil apa yang saya dapat dari profesi ini? Ketika ada yang bertanya demikian, identik dengan hasil yang berupa materi atau nominal dollar yang saya peroleh. Saya jawab dengan tegas, Saya menikmati profesi ini, ketika saya merasakan tantangan dalam suatu pekerjaan dan menikmatinya, maka rasa-rasanya faktor lain tidak menjadi suatu masalah yang besar. Jadi mulai dari sekarang, kita lihat diri kita masing-masing, hal apa yang menjadi kemampuan terbaik kita, kita pahami karakter kita, lalu kita kembangkan kemampuan kita tersebut, nikmati setiap detik prosesnya, seperti pepatah mengatakan "keahlian merupakan kebiasaan yang diulang-ulang". Semakin kita sering melakukannya dan terbiasa, niscaya predikat "ahli"  akan kita peroleh dari orang lain. :)


Nur Rohmat

Post a Comment

Instagram